ead>

Just for Truth finder

Just for Truth finder
This blog had been conquered by Khilafah

Sunday, August 18, 2013

Behind the war


أعوذ باللله أن أكن من الجاهلين

بسم الله الرحمان الرحيم


لا عزة إلا بالإسلام
لا إسلام إلى بالسيراه
لا سيريئة إلا بالدولة خلافة ألا منهاج النبوة


أشحد عن لا الله إلا انتا سبحانك لا الم لنا إلا ما المتنا ,اني كنت من الظالمين ,انك انتا الأليمٌ الحكيمٌ ,فقنا عذاب النار
وأشحد أن محمداً عبدهو ,ورسوله و ,ولا نبي بعد


الحمد لالله لذي ارسلا رسوله بالحدا ودينل حق ليذهيرهو ألدين كلهي ولو كرحل مسركون ولو كرحل منافقٌ ولو كرحل كافرون وكفا بالالله شهيداً
  Ini persoalan lama...

Jika di bahas satu demi satu perang tidak akan meninggalkan jejak kebaikan sama sekali. Bahkan, justru memperjelas identitas manusia sebagai 'perusak' dan 'pembunuh'. Seperti yang di takutkan oleh malaikat, ".. untuk apakah menegakan mereka (khalifah : peradaban manusia) di bumi, orang-orang yang hanya membuat kerusakan di muka bumi dan saling menupahkan darah........" (penggalan surah Al Baqarah 30). Dan benar-benar hanya itu yang kita tahu sejak keturunan pertama Nabiyullah Adam a.s., Habil dan Qabil memberi contoh bagaimana semuanya di mulai.

Tapi mari berfikir lebih bijak, mereka yang berakal pasti menemukannya. Apa yang di inginkan Allah dari semua ini adalah Khalifah yang benar-benar khalifah. Yang menggantikan Allah mencangkul di sawah, yang meggantikan Allah melempar jala di lautan, yang menggantikan Allah dalam melestarikan semesta. Sehingga, Makhluk yang di ciptakan tidak ada yang sia-sia.

Dan kitalah yang lancang sekaligus juga tertipu. Semua yang di berikan Allah bukan tanpa batasan. Dan dengannya pula (sebagian) kita mendongak ke langit seolah kita bisa terbang se enaknya. Surah Arrahman ayat 33 menjelaskan sedikit tentang ini " Wahai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus dan melintasi penjuru langit dan bumi, maka tembus dan lintasilah! Kamu tidak akan dapat menembus dan melintasinya kecuali dengan Daulat (persetujuan Allah).". Maka wajarlah jika Grafitasi menarik 'sayap-sayap besi' kembali ke bumi untuk mengingatkan.

Kita bukanlah apa-apa kecuali makhuk, maka untuk apa lagi membahas perang.

Persoalan-persoalan yang sengaja di buat-buat dalam rangka 'perang' benar-benar buang-buang waktu. Memperuas teritori (padahal bumi hanya satu dan Milik Allah bukan milik kita), menjamin kedamaian dan kestabilan politik (yang membatasi wilayah dalam kelompok teritorial juga Kita dan bukan Allah), Mengakhiri perang berkepanjangan (yang kalah tentu akan menuntut sampai mereka menang), semua ini mata rantai kebencian yang kita buat sendiri dan kita sendiri korbannya. Kitalah yang melenceng jauh dari tujuan penciptaan. Kitalah yang bodoh. Kitalah yang tertipu. Kitalah yang harus di perbaiki.

Imbas dari perang yang berkepanjangan benar-benar mengerikan. Yang di butuhkan hanya satu tetes darah di ujung pedang di masa lalu, dan ribuan orang akan menangis sampai hari ini. ".. Anakku.. Jangan pernah menumpahkan darah.. darah yang di tumpahkan ke bumi tidak pernah tidur (tenang).." ini adalah pesan Salahuddin Al - Ayyubi kepada anaknya Az -Zahir, Salahuddin adalah pemimpin yang di kenal sangat adil termasuk dalam perang salib melawan musuh-musuh Allah.

Etika perang pun di contohkan oleh nabi, misalnya :
  1. Tidak boleh menghancurkan rumah dan pepohonan,
  2. Yang di bunuh hanya mereka yang melakukan perlawanan,
  3. Membunuh hanya untuk Allah dan bukan amarah / emosi,
  4. Yang di taklukkan adalah wilayahnya dan bukan masyarakatnya, mereka HARUS di ijinkan untuk tinggal di rumahnya, dan masih banyak lagi.
Inilah yang di beritakan kepada kita sampai hari ini. Namun kita tidak pernah sedikit pun melirik bagai mana Rasulullah memulainya. Rasulullah tidak pernah berperang kecuali setelah beliau mendapatkan kekuatan yang cukup setelah hijrah ke madinah (fathu madinah). Saat masih di makkah, rasulullah dan para sahabat disiksa dan di aniaya. Para sahabat pun gelisah "ijinkan kami mengangkat pedang kami yaa Rasullullah.." namun Raslullah selalu menjawab "Tidak ada perintah (ijin) dari Allah untuk itu..". Kita (ummat terakhir) benar-benar tidak pernah belajar.

Apa yang terjadi di negeri-negri muslim (termasuk di indonesia) adalah dendam lama musuh-musuh Allah yang telah di taklukan “…mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup” Al Baqarah ayat 217, “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”.As Shaf ayat 8, dan masih banyak lagi petunjuk dari Alah di dalam Al Qur'an tantang ini.

Sejatinya kita benar-benar sadar (tapi tidak pernah), Kita saling membunuh dan menghancurkan karna kehendak kita sendiri. Untuk menghentikannya cukup dengan menghilangkan kehendak, mengetahui perbedaan (tidak berusaha menyatukan dan membanding-bandingkan), mengakui eksistensi yang lainnya, dan benar-benar tunduk pada Aturan-aturan Allah secara kaffah. 

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208).

Tidaklah beriman jika kita melakukan sebaliknya, atau setengah-setengah....

Wallahu a'lam..........


Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment