kalimat bagus yang biasa ditayangkan di TV, benarkah hidup benar-benar bergelombang?
Banyak teori tentang kehidupan yang pernah kudengar. Sebagian besar lahir dari pengalaman hidup dari orang yang pertama yang mengucapkannya. Sebagian yang lain berawal dari sebuah perang berdarah lalu kemudian organisme cerdas bernama manusia yang hidup saat itu berfikir ke arah yang sama saling menggerakkan dan seterusnya-seterusnya (sisanya terlalu membosankan untuk ku teruskan) kemudian berakhir pada sebuah kata "Revolusi". Dan terakhir, manusia modern mengenal kata "moving on" yang pada dasarnya hanya sebuah istilah saja, substansinya tetap saja revolusi.
Jika difikirkan sekali lagi, revolusi adalah kata serapan dari kata dasarnya yaitu Evolusi yang ditentang oleh seluruh manusia yang tidak mau disejajarkan dengan makhluk mirip manusia namun tidak cerdas bernama primata. Tapi secara tidak sadar, bersama-sama manusia memaklumkannya hanya karena kita Manusia membutuhkan mimpi tentang perubahan. Maka muncul banyak pertanyaan disini atau mungkin hanya saya saja yang penasaran.
Revolusi...
Melihat perkembangan peradaban yang ada, peradaban manusia berkembang seiring sejarah dan waktu, yang tercatat dan tidak tercatat menjadi bibit awal peradaban yang ada sekarang, dan proses revolusi yang ada sekarang menentukan akan seperti apa wajah bumi ratusan tahun yang akan datang. Siapapun yang masih hidup saat ini mungkin telah menjadi fosil saat revolusi terjadi di masa depan. Jadi, dimana atau kapankah akhir dari revolusi?
Melihat penyebab dari revolusi, tidak lepas dari kebutuhan manusia. Renaissance misalnya, berakar dari kebutuhan penduduk eropa saat itu akan kemerdekaan dari penindasan, pembodohan yang disengaja, pemalsuan dan penipuan dalam berkeyakinan, dan terakhir batasan yang berlebihan terhadap potensi dan kecerdasan mereka saat itu. Kebutuhan manusia benar-benar sangat banyak, bahkan terkadang lebih banyak dari yang bisa di bawa pulang kerumah. Atau lebih tepatnya, kita terlalu banyak 'bermimpi'.
Kemudian Industri (revolusi Industri), berangkat dari kebutuhan akan kecepatan dalam banyak hal, kapitalisasi dibanyak sektor, kebutuhan akan manufaktur dalam bidang militer atau dengan kata lain optimalisasi alutista yang ada saat itu lewat jalur industri. dan tentu saja kebutuhan yang paling mendesak akan perang untuk meningkatkan permintaan senjata / alat perang sehingga pabrik-pabrik bisa tetap punya modal untuk didaur ulang. Kebutuhan Sekali lagi menjadi alasan atau mungkin pembenaran untuk perubahan 'Revolusi'. Kita Manusia benar-benar terlalu banyak bermimpi.
Dan di teruskan hingga revolusi terakhir yang prosesnya mungkin tidak akan pernah selesai. Revolusi Informasi, menjadikan komputer sebagai alat penunjang kehidupan yang nyaris lebih penting dari jantung manusia. Satu-satunya cacat yang ada mengubah komputer harus selalu di perintah dengan penekanan tombol enter dan satu klik setiap kali keputusan baru harus diambil. Komputer adalah benda paling aneh dan bodoh yang pernah menjadi manifestasi manusia sejak manusia pertama menjejakkan kaki di bumi.
Maka, di manakah kita Manusia dalam Revolusi?
Kita bermimpi akan perubahan kondisi tanpa pernah sadar kitalah 'kondisi'...
Kita yang membuat terobosan lewat pemikiran dan penemuan yang terlalu banyak padahal dengan indera yang ada, lidah, tangan, kaki dan kepala yang masih berfungsi saja perubahan itu masih mungkin....
Kita juga yang memandang hidup ini kejam dan bergelombang, bahwa mereka yang terbang terlalu tinggi harus merasakan sakit akibat tumbukan keras setelah di seret oleh gravitasi sepanjang lintasan vertikal. Bukankah ini berlebihan? Kenapa kita bisa begitu ketakutan pada asumsi yang kita fikirkan sendiri?
Melirik kembali teori Evolusi seharusnya perubahan itu 'ke depan' atau kearah yang lebih baik sesuai dengan kebutuhan hidup yang ada dalam rangkan menghadapi seleksi alam. Belum lagi, jika kita melihat Revolusi yang pernah ada dan yang sedang berlangsung menunjukkan perembangan kualitas fasilitas hidup manusia yang mencengangkan. Tapi harus diakui bahwa moral, kualitas berfikir, kemampuan bersikap, dan kemampuan menerjemahkan ide justru mengalami kemunduran drastis. Persis seperti diseret oleh grafitasi searah garis Vertikal, jauh menghujam bumi.
Ke arah manakah kita berubah??
Moving on yang kita yakini sekarang bisa saja kita benarkan dengan dalih bahwa 'moving on' itu untuk masing-masing individu saja. Saya rasa kita semua adalah makhluk dewasa yang seharusnya mau mengakui bahwa kita telah salah. Perubahan / Revolusi / Moving on itu semua hanya pembenaran untuk mimipi kita yang berlebihan, kebutuhan yang sebenarnya kita tahu kita sendiri tidak mampu menghabiskannya sendiri. Itu semua tujuan semu yang kita buat sendiri hanya untuk kesenangan akan penaklukan saja. Apa gunanya mengubah sesuatu jika kita sendiri tidak tahu harus mengubahnya kearah mana???
Live is flat...
we dig the hole..
we discard alot of pile on it..
face it...