ead>

Just for Truth finder

Just for Truth finder
This blog had been conquered by Khilafah

Tuesday, September 22, 2015

Impugned and Disoriented Entity #2

Pernyataan Socrates di penghujung hidupnya kepada didikannya Plato setelah dijatuhi hukuman mati, pernyataannya ini untuk menjaga tradisi para pemikir (filsuf). Yaitu, wajib hukumnya mewariskan pemikiran.
"... Mereka bisa saja membunuh seorang Socrates, tapi tidak dengan pemikiran dan ide. Ide tak dapat dibunuh... Lebih baik mati karena pemikiran yang benar, dari pada bertindak di atas ke-tidak benar-an... Mereka yang melakukan ke-tidak benar-an pada akhirnya akan menghancurkan dirinya sendiri..."


Ide dan pemikiran menjadikan jiwa-jiwa pemikir menjadi kekal abadi. Mudah bagi siapa pun untuk menipu diri dengan asumsi bahwa kematian dapat ditunda dengan kecanggihan dunia medis mutakhir. Tapi tidak ada asumsi yang dapat melindungi siapapun dari ke-tidak benar-an dan kebodohan. Sebab ke-tidak benar-an dan kebodohan jauh lebih mutakhir dari apapun.

Plato melanjutkan petualangan gurunya di alam ide. Ada banyak sekali buah pemikiran yang ditinggalkan olehnya. Dan diantaranya adalah ;
"..Semua benda (materi dan non materi) di alam hanyalah refleksi dari alam ide"
Delusi tentang dirikita sendiri di dindinding yang kita sebut bayangan terkadang bisa membingungkan.Terlebih saat muncul pertanyaan-pertanyaan di kepala kita. Seperti, Bagaimana bayangan itu ada? Siapa/apakah dia? Akukah dia atau diakah aku?

Ada satu cacat dalam ide ini...

Pandangan Plato dalam hal ini nampaknya berangkat dari apa yang bisa diterima oleh panca indera saja. Yang jadi persoalan bagaimana dengan bayi-bayi yang belum lama lahir dan baru pertama kalinya mereka benar-benar melihat dunia. Jika sebelumnya belum ada informasi yang cukup tentang dunia didalam pemikiran kita, lalu dari mana ide tentang dunia itu bisa ada? dan bagai mana bisa direfleksikan menjadi dunia jika idenya saja belum ada? dan yang manakah yang refleksi saat kita melihat dunia untuk pertama kalinya! Ide tentang dunia atau dunia itu sendiri?

Sedikit sekali orang bodoh yang mau melelahkan kakinya untuk melangkah keluar dari alam delusi...

Pendapat lain dari Aristoteles yang bisa kita temui dalam teori evolusi.
"... Semua hal yang ada di dunia ini memiliki potensi yang sama untuk bertransformasi..."
Aristoteles membagi dunia menjadi dua substansi, benda hidup (Biogenesis) dan benda mati (a-Biogenesis). Dan menurutnya secara metafisika dunia dapat berubah secara substansial dari hidup menjadi mati dan begitu pula sebaliknya. Dan sekali lagi ada cacat dalam teori ini...

Ada substansi lain yang menjadi pondasi utama yang memisahkan manusia dari material lainnya di dunia baik hidup maupun mati. Hanya manusia saja yang berfikir yang dengan pemikiran pula manusia menyusun peradaban. Tapi, apakah hanya itu yang menjadikan kita manusia?

Pemikir, penemu, dan orang-orang bodoh lahir dan mati dalam jumlah yang tidak terhingga sepanjang sejarah eksistensi manusia. Pemikiran, temuan, ide dan kepentingan bermunculan mengiringi tegak dan runtuhnya banyak peradaban. Prehistorik, historik, renaisance, millenium, dan saat ini... dan seterusnya...

"Cogito.. Ergo sum.."
Aku berfikir.. aku ada..


Anekdot :

Astronot
" Entah berapa kali ku tembus awan dan ku jejaki planet-planet, komet dan bulan. Belum pernah sekalipun ku temui Tuhan, malaikat atau apapun...."
 Dokter Bedah Otak
" Tidak terhitung banyaknya kepala orang ku belah termasuk astronot sepertimu. Dan tidak terhitung banyaknya otak yang ku bedah termasuk otak-otak pemikir ulung. Tidak pernah sekalipun ku temui pemikiran..."
Ini lelucon yang tidak lucu....

Indera manusia adalah potensi yang menyempurnakan manusia yang berfungsi untuk menangkap semua bentuk sensasi yang bisa diterima oleh akal tentang dunia. Sehingga dunia dan manusia benar-benar ada dan nyata. Itu karena pemikiran membutuhkan informasi yang cukup dan diperlukan sebelum datangnya ide tentang manusia dan dunia. Tapi bukan hanya itu saja. Potensi lain yang dimiliki manusia adalah perasaan, yang merupakan pemisah antara kebenaran dan ke-tidak benar-an. Juga merupakan media pengambilan keputusan di atas kehendak dan keyakinan.

"Scentio... Ergo sum..."
Aku merasakan (berperasaan)... Aku ada...

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment