ead>

Just for Truth finder

Just for Truth finder
This blog had been conquered by Khilafah

Sunday, February 23, 2014

Pertanyaan pertama untuk semesta

Ini adalah apa yang saya fikirkan untuk saat ini, saya menuliskannya persis sama di media yang lain. Selamat membaca...
another source : Brusque's personal facebook page
 





Siapa / apakah kita?


Ini hanya sebuah pertanyaan,sebagai permulaan inilah yang kita sama-sama tahu. Tapi mulailah berfikir. Terkadang sebuah pertanyaan membutuhkan tanggapan, sebuah jawaban serius yang mungkin dapat merubah paradigma berfikir yang ada di dalam benak kita (manusia) yang biasa-biasa saja. Dan bisa jadi perubahan besar di dalam pola fikir mengarahkan kita pda kontradiksi keyakinan. Pencerahan dan ide-ide baru selalu bermunculan, dan tidak semua kepala mau memikirkan kebenaran.

Siapakah atau apakah saya?

Terkesan seperti hanya sebuah pertanyaan saja, sebagian orang menanggapnya sebagai pertanyaan yang mengarah kepada identitas individual semata.atau bahkan sebagian orang yang lain mengaggapnya sebagai retorika angin lalu yang tidak perlu ditanggapi. Padahal, bisa jadi sebuah pertanyaan itu mengarah kepada apa-apa yang tidak pernah difikirkan oleh siapapun sebelumnya. Sesuatu yang kelihatannya tidak penting pada awalnya, justru kehidupan berjalan melewatinya.

“siapakah atau apakah kita / saya / kamu / dia?” adalah sebuah pertanyaan yang pernah / sedang dan / atau akan kita jalani. Jawaban untuk pertanyaan ini sangat beragam. Semakin banyak yang berfikir akan semakin banyak perbedaan ide yang di hasilkan. Satu pertanyaan saja dan seribu jawaban akan berdatangan, atau mungkin lebih banyak dari itu. Pada dasarnya “You are what you think you are”. Semakin sedikit yang kita pahami dan fikirkan tentang diri kita sendiri, se-sedikit itu pula kita.

Disamping itu bagai mana kita mengenal diri kita sendiri belum tentu sama dengan apa yang dikenali orang lain tentang kita. Maka, “Siapa /  apakah dia?” juga penting untuk dijawab oleh kita terhadap orang lain. Ini untuk membantu diri sekaligus mendorong diri sehingga eksistensi manusia secara luas (universal) tidak sia-sia.

Bahak teori, mulai dari yang sekedar teori sampai kepada penjelasan yang akurat dan substantif, bahkan di jelaskan di banyak kitab suci. Namun batasan-batasan akal manusia seperti ego, anggapan, ke-tidak percaya-an, fanatisme radikal, dan banyak lagi batasan lain yang menghalangi kebenaran  yang bernilai benar. Penting kiranya menaklukkan naluri “melindungi diri” khususnya dari kebenaran. Dengan kata lain “Jangan takut dengan kebenaran... karna kebenaran itu tidak menakutkan... dan jangan takut untuk bertanya... jawaban tidak akan menghampirimu jika kau lari darinya. Dan, mulailah mengambil peran....”

---- ide tentang ini semua masih akan berlanjut mungkin sampai saya (penulis) tidak lagi mampu untuk berfikir ----
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment