Ini adalah apa yang saya pahami tentang kehendak, semog tidak menyesatkan kalian yang membacanya. Dan semoga apa yang saya tulis ini, bisa menjadi referensi bagi siapapun yang mencari kebenaran. seperti diri saya sendiri. Selamat membaca....
أَعُوذُ بِٱللَّهِ أَنۡ أَكُونَ مِنَ ٱلۡجَـٰهِلِينَ
بسم الله الرحمان الرحيم
لا عزة إلا بالإسلام
لا إسلام إلى بالسيراه
لا سيريئة إلا بالدولة خلافة ألا منهاج النبوة
الحمد لالله لذي ارسلا رسوله بالحدا ودينل حق ليذهيرهو ألدين كلهي ولو كرحل مسركون ولو كرحل منافقٌ ولو كرحل كافرون وكفا بالالله شهيداً
أشحد عن لا الله إلا انتا سبحانك لا الم لنا إلا ما المتنا ,انك انتا الأليمٌ الحكيمٌ ,فقنا عذاب النار
وأشحد أن محمداً عبدهو ,ورسوله و ,ولا نبي بعد
وإذ قال ربي
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِى ڪِتَـٰبٍ۬ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٲلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ۬
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِى ڪِتَـٰبٍ۬ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٲلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ۬
dan ingatlah dengan apa yang di sampaikan Allah dalam alqur'an (seperti saya kutipkan di atas) di surah Al hadiid ayat 22
Yang artinya ;
"Tiada
suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) dirimu sendiri
melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah."
Apa yang akan saya jelaskan adalah berkaitan sekali dengan ayat ini, yang mana terdapat banyak sekali pemahaman yang tersebar di luar sana mulai dari yang murni menyimpang sampai dengan yang benar-benar sesuai dengan KEHENDAK ALLAH. Ayat ini sebenarnya menjelaskan tentang Semesta Alam yang ada di sekeliling kita, bahwa mulai dari inti sel (biji atom) sampai yang lebih besar dari matahari sekalipun telah di tuliskan mulai dari prosesnya, bagai mana mereka bekerja dan bersinergi, sampai dengan bagai mana mereka akan di akhiri. Seandainya saja Lauhul mahfudz adalah sebuah buku maka perlu waktu lebih dari jutaan tahun bagi manusia normal untuk memahami lembar demi lembar penjelasan tentang bagai mana mereka bekerja.
Fakta logis, bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan bagaimana Alam bekerja adalah benar. Tanpa hubungan interaksi dan hukum Causalitas (sebab akibat) manusia tidak mampu menentukan /mengarang sendiri waktu turunnya hujan. Jika saja tidak ada yang mepelajari hujan misalnya, maka tidak akan ada yang tahu bahwa menebar garam dalam gumpalan awan kumulonimnbus dapat membantu mengumpulkan partikel-patikel air sehingga menyebabkan hujan dan itupun masih bergantung hembusan angin dan faktor-faktor alam lainnya. maka jelaslah manusia tidak dapat menciptakan hujan atas kehendaknya sendiri. Tapi sekali lagi hukum alam yang lain dapat membantu manusia dalam hal mengeksplorasi potensi-potensi alam di sekelilingnya. Misalnya saja dengan menghitung faktor-faktor alam yang sudah di ketahui sebelumnya kita bisa menebak (meski tidak selalu tepat sasaran) kejadian-kejadian alamiah yang mungkin terjadi. Erupsi vulkanis, curah hujan, sampai yang paling sulit semisal datangnya bulan baru dalam kalender hijri pun bisa di hitung. Tapi bukan atas kehendak manusia sendiri melainkan atas ikatan interaksi yang terjalin sebelumnya antara alam dengan manusia. Alami sendiri dan pelajari maka kita bisa menentukan apa yang harus di lakukan sebelum bencana itu datang.
Itu semua adalah atas izin Allah, sebab bekal akal dan Kehendak (keinginan untuk bertindak) di titipkan bukan untuk di sia-siakan.
Kehendak Tuhan terhadap Kehendak Manusia, sudah barang nyata bahwa tuhan memiliki hak feto terhadap apapun yang dikehendaki oleh makhluk. Persoalannya sekarang, adalah bagai mana dengan kebalikannya, TIDAK BISAKAH MANUSIA MEMPENGARUHI KEHENDAK TUHAN? Berfikirlah dengan cara ini...
Tuhan menciptakan manusia lengkap dan sempurna, bukan dalam rangka sekedar hidup, cari makan, sanitasi, tidurnyenyak, sakit dan mati. Kehendak Tuhan atas manusia jauh lebih besar, Lebih rumit, dan lebih TIDAK SEDERHANA jika di bandingkan dengan Kehendak Tuhan atas Makhluk-Makhluk lain. Sebagai bukti,
Fakta logis, bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan bagaimana Alam bekerja adalah benar. Tanpa hubungan interaksi dan hukum Causalitas (sebab akibat) manusia tidak mampu menentukan /mengarang sendiri waktu turunnya hujan. Jika saja tidak ada yang mepelajari hujan misalnya, maka tidak akan ada yang tahu bahwa menebar garam dalam gumpalan awan kumulonimnbus dapat membantu mengumpulkan partikel-patikel air sehingga menyebabkan hujan dan itupun masih bergantung hembusan angin dan faktor-faktor alam lainnya. maka jelaslah manusia tidak dapat menciptakan hujan atas kehendaknya sendiri. Tapi sekali lagi hukum alam yang lain dapat membantu manusia dalam hal mengeksplorasi potensi-potensi alam di sekelilingnya. Misalnya saja dengan menghitung faktor-faktor alam yang sudah di ketahui sebelumnya kita bisa menebak (meski tidak selalu tepat sasaran) kejadian-kejadian alamiah yang mungkin terjadi. Erupsi vulkanis, curah hujan, sampai yang paling sulit semisal datangnya bulan baru dalam kalender hijri pun bisa di hitung. Tapi bukan atas kehendak manusia sendiri melainkan atas ikatan interaksi yang terjalin sebelumnya antara alam dengan manusia. Alami sendiri dan pelajari maka kita bisa menentukan apa yang harus di lakukan sebelum bencana itu datang.
Itu semua adalah atas izin Allah, sebab bekal akal dan Kehendak (keinginan untuk bertindak) di titipkan bukan untuk di sia-siakan.
Kehendak Tuhan terhadap Kehendak Manusia, sudah barang nyata bahwa tuhan memiliki hak feto terhadap apapun yang dikehendaki oleh makhluk. Persoalannya sekarang, adalah bagai mana dengan kebalikannya, TIDAK BISAKAH MANUSIA MEMPENGARUHI KEHENDAK TUHAN? Berfikirlah dengan cara ini...
Tuhan menciptakan manusia lengkap dan sempurna, bukan dalam rangka sekedar hidup, cari makan, sanitasi, tidurnyenyak, sakit dan mati. Kehendak Tuhan atas manusia jauh lebih besar, Lebih rumit, dan lebih TIDAK SEDERHANA jika di bandingkan dengan Kehendak Tuhan atas Makhluk-Makhluk lain. Sebagai bukti,
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ
لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا
أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ
نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا
تَعْلَمُونَ
Al Baqarah : 30
Ingatlah ketika Tuhanmu
berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan
seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan
memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Berdasarkan ayat di atas seharusnya sudah jelas bahwa manusia itu lebih dari apa yang kita fikirkan. Kehendak manusia hanyalah sebatas Melestarikan apa yang sudah ada, Kehendak manusia tidak lebih adalah bahagian kecil dari blue-print aturan semesta yang telah diatur oleh Allah, Kehendak Allah-lah yang menjadikan kita 'Berwenang' atau 'incharge' dan 'bertanggung jawab' sepenuhnya terhadap setiap aksi dan reaksi yang bergulir dalam setiap interaksi penduduk semesta. Dan tentu, masih dalam batasan 'yang di sanggupi' oleh manusia sendiri. Singkat cerita, manusia di daulat saat di ciptakannya untuk menjadi Khalifah (peradaban, pelestari).
والله أعلمُ بالـصـواب....