ead>

Just for Truth finder

Just for Truth finder
This blog had been conquered by Khilafah

Sunday, October 9, 2016

Karya sastra bukan senjata

Baru-baru ini saya menemukan hal baru di internet yang menurut saya cukup mysterius. Kalian mungkin pernah mendengarnya, Tomino no jigoku (Neraka Tomino) adalah sebuah judul karya sastra puitis yang di karang oleh Saijo Yaso dan di terbitkan tahun 1919. Entah bagai mana puisi ini menjadi legenda urban bernuansa gaib di jepang, yang mana banyak orang percaya bahwa mereka yang membaca puisi ini dengan suara lantang (terdenganar oleh orang lain) maka orang yang membacanya sampai habis akan mati.


Penulis mencoba menggali lebih dalam lagi terkait puisi ini di internet, namun sepertinya orang-orang di seluruh dunia terlanjur hanyut ke dalam arus pemikiran yang dangkal. Tidak ada satu artikel pun yang membahas latar belakang Saijo Yaso yang dapat di percaya aktualitasnya. Tidak ada satu artikel pun terkait Tomino no jigoku yang tidak dibumbui dengan mitos. Dan lebih buruk lagi, tidak ada artikel apapun yang menjelaskan apakah Tomino sebagai gadis kecil yang menjadi tokoh sentral dalam puisi ini benar-benar ada atau tidak?

Entah kenapa tapi....
Saya mulai percaya banyak pihak di  internet sedang mendorong orang-orang yang tidak perduli pada kebenaran informasi untuk tersesat di dalam dunia tahyul alias mitos. Apapun alasannya, menyeret orang-orang sehingga mereka hanyut ke dalam alam ketidak-tahuan sama sekali tidak bisa dibenarkan. Namun apalah artinya jika saya sendiri tidak punya buktinya.

Dengan modal pengetahuan saya yang dangkal akan sastra. Terlebih lagi minimnya informasi yang benar terkait puisi tersebut saya masih bisa menemukan sedikit kebenaran di dalamnya. Banyak pakar sastra telah menyumbangkan pandangan mereka terkait fenomena ini. Dan dengan nada yang sama mereka berpendapat bahwa Saijo yaso menuangkan perasaan berkabungnya didalam banyak karyanya.

Sungguh menakjubkan...

Jika selembar kertas dengan tulisan di atasnya bisa mengubah pandangan manusia selama bertahun-tahun. Tidak bisa dibayangkan jika berlembar-lembar informasi palsu dituangkan hanya untuk menipu masyarakat dunia. Menutupi mata kita dari kebenaran sejati. Menyeret rasa ingin tahu ke arah yang lebih menakutkan. Mengingat sifat asli kita sebagai manusia saat di pertemukan dengan hal baru yang pada dasarnya hanyalah tipuan saja, kita cenderung ketakutan. Rasa ingin tahu itu dikalahkan.

Sekedar tambahan, informasi yang beredar belakangan ini di negeri ini (Indonesia) menunjukkan gejala-gejala ini dengan sangat jelas. Masyarakat dibutakan dengan informasi sederhana untuk menutupi apa yang sedang bergerak di baliknya. Persoalan kopi sianida digulirkan, dan saat sedikit lagi berakhir dilanjutkan dengan judul drama yang baru tentang informasi sesat ber-unsur sara di mulai dari ibukota negara. Seterusnya hingga akhirnya kita larut dalam keraguan pasti bahwa keadilan itu palsu, kedamain atas dasar keyakinan agama itu bohong, tidak ada lagi Tuhan....

Tidak ada lagi kebenaran yang tersisa....

Berlembar-lembar penipuan ini harus segera ditutup dengan realitas sejati.

Sepotong kalimat yang pernah di ucapkan oleh seorang sahabat dari Sang Nabi Allah (maaf saya lupa namanya) bahwa "..satu kebohongan yang sampaikan berulang-ulang suatu saat akan mengalahkan satu kebenaran yang disampaikan hanya satu kali...". Penipuan ini masih bergulir, di saat kita masih membacanya.
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment