Hamba tuhan dilarang berisik..
Konstitusi penuh godaan setan..
Jangan bawa tuhan dalam politik.
Kesalah pahaman bisa terjadi jika kata di baca dan makna di lupa.
Dalam politik ada jargon yang selalu di perdengarkan untuk menyenangkan telinga rakyat jelata. Bahwa negri adalah rumah dan rakyat adalah pemiliknya menjadi prospek yang sangat menjanjikan bagi siapapun (rakyat jelata). Dan apakah ada negeri yang benar-benar seperti itu? "..selalu ada pengorbanan untuk sesuatu yang lebih besar..." barangkali hanya penulis saja yang muntah mendengar jawaban ini dari negarawan. KEPEMILIKAN di korbankan untuk sesuat yang LEBIH BESAR, kepentingan rakyat bukan lagi prioritas politik. Atau jika di balik, Pernahkah kepentikngan rakyat jadi prioritas?
BAHWA KEMERDEKAAN ITU IALAH HAK SEGALA BANGSA
Tidak ada individu yang benar-benar merdeka..
Kemerdekaan hanya mimpi bagi mereka yang sendirian....
Rakyat jelata yang berbeda dalam paham akan berakhir sebagai individu yang terjajah. Oleh yang LEBIH BESAR individu-individu yang menjadi bagian dari bangsa di cekoki dengan pemahaman usang bahwa pemikiran yang berbeda adalah ancaman. Satu cara lama untuk menyingkirkan semua yang mengancam entitas kekuatan 'Penajajah ide', membuat kita berfikir bahwa saudara sendiri adalah ancaman lalu dengan satu tiupan peluit masalah bisa 'di lenyapkan'.
Ketakutan yang berlebihan yang belakangan ini menjelajahi benak mereka yang 'lebih besar' semakin membabi buta. Terlebih ketika rakyat jelata dari seluruh daratan berbaris mendatangi istana atas satu kepentingan yang sama. Bahwa hanya di hadapan tuhan saja perbedaan dilenyapkan. Dan bahwa keadilan atas di cemar-kannya kepercayaan Rakyat sedang di pertaruhkan, penghuni istana justru beranggapan yang LEBIH BESAR lebih penting untuk di layani. Kehormatan rakyat yang terluka mereka anggap akan hilang begitu saja. Dan bacalah....
Sebelum tulisan ini di buat muncul pernyataan baru dari negarawan yang entah siapa (penulis tidak mau tahu siapa) bahwa Agama tidak boleh ikut campur dalam politik. Pernyataan ini membuat penulis bingung dan marah. Agama boleh dijadikan jargon dalam politik, pemanis dalam retorika dan bahkan di adopsi dalam berbagai event ceremonial kenegaraan. Musyawarah, Sumpah jabatan dengan kitab suci, Point pertama dalam pancasila.......
Tunggu....
Tuhan tidak boleh berpolitik...
Hingga dititik ini...
penulis memutuskan untuk marah...